Dakwah dan Cinta Hafizah
Oleh: Afrizal.S
Setelah
enam tahun lamanya aku menimba ilmu di sebuah pondok pesantren hidayatullah
cabang Medan, ketika itu kami kelas tiga Madrasah Aliyah merasa sangat senang
sekali,karena akhrnya kami lulus juga.
Akan tetapi setelah itu kami semua langsung di tugaskan kesebuah tempat
yaitu polonia selama dua bulan sebelum melanjutkan studi lagi kejenjang yang
yang lebih tinggi. Tempat itu konon katanya akan mau dibuat menjadi tempat
sentral dakwah hidayatullah cabang medan. Disitu aku dan teman-teman semua di
ajarkan begitu banyak hal mulai dari cara mencangkul yang baik , masalah
pertukangan, merawat tanaman , dan juga menjaga sholat lima waktu sehari
semalam dibalik aktifitas yang kami lakukan.
Seiring waktu yang terus berlalu tidak terasa setelah
satu bulan kurang lebih kami berjuang bersama-sama,dan pagi menjelang siang itu
kami sedang kerja bakti untuk merapikan sebuah taman yang sudah terlihat
rumput-rumput tumbuh disekeliling bunga-bunga yang indah namun tidak sejuk lagi
dilihat oleh mata karena tumbuhnya semak-semak disekelilingnya.
Setelah
berjam-jam bekerja bakti saya pun merasa lelah dan perlu untuk beristirahan sejenak. Ketika itu
saya memilih untuk beristirahat disebelah musholla, disana ada sebuah pohon
yang rindang dan dibawahnya ada sebuah kursi panjang yang sangat nikmat untuk
dijadikan tempat istirahat dan bersantai ria sambil menikmati es teh dan
gorengan buatan buk yani. Buk yani adalah salah satu istri ustadz yang
bertempat tinggal di ssentral dakwah polonia tempat kami mengapdi selama dua
bulan kurang lebih.
Tak
ku sangka , tiba-tiba seorang teman saya
yang bermana Ramadhan yang kulitnya tidak putih ataupun tidak kuning langsat,
sehingga teman-teman menjulukinya Ramadhan
Mbereng yang berarti Ramadhan yang hitam, ketika itu dia pun berkata “
zal kita pulang”, akupun langsung bertanya lagi karena kurang paham apa
maksutnya, pulang ? pulang kemana ?
tanyaku. “Kita pulang kepondok di suruh oleh ustadz Ali hermawan” jawabnya
tegas.akupun tidak percaya begitu saja kepadanya, karena dia juga sering
bercanda dan aku mengira kalau dia hanya bergurau saja ketika itu, tapi Tidak lama kemudian, ketika itu ustadz Ali
Hermawan datang menghampiri kami berdua, “ ramadhan, afrizal ayo cetat mandi
sana lee dan cepat balik kepondok, karena kalian akan menjaga mesjid di sebuah
kompleks yang bertepatan tidak jauh dari pondok dan kalian disana nanti sampai
bulan puasa karena jamaah disana memerlukan bantuan untuk merawat dan
memakmurkan masjid disana nantinya dan setelah bapak pikirkan kalian lah yang
cocok dan saya yakin kalian mampu untuk itu ” kata ustadz Ali Hermawan kepada
kami berdua.
Singkat cerita setelah kami membersihkan diri dan
berkemas-kemas,aku dan ramadhan pun langsung berpamitan kepada para ustadz dan
ustadzah yang ada di sana dan juga kepada teman-teman seperjuangan untuk
kembali ke sebuah penjara suci yaitu pondok pesantren Hidayatullah tercinta
Setelah
berpamitan kepada semuanya betepatan pada jam sepuluh lewat lima belas pagi
menjelang siang itu aku dan ramadhan pun berangkat dari sentral dakwah polonia
menuju pondok pesantren hidayatullah.
Diatas
terik matahari yang sangat menyengat kami pun terpaksa berjalan sekitar tiga
kilometer untuk mendapatkan jalan raya dan kami akan naik mobil angkot P26 dari
sana. Setibanya di jalan raya dan
setelah menunggu beberapa menit, akhrnya yang kami tunggu-tunggu dan kami
nantikan pun telah dating ya itu mobil angkot P26 yang akan membawa dan
mengantarkan kami ke tempat tujuan.
Singkat
cerita setelah sampai di sebuah kota yang bernaman Tanjung Morawa tiba-tiba pak
supir berkata ”habis ! habiss…!!!!.habisss…!!!! sambil menghentikan
mobilnya”... !!
Pak,
apa mobilnya tidak sampai ke Bandar labuhan ????.... Tanya ku ..
“
Tidak bang “ jawab pak supir ..
“Lho.. knpa pak , biasanya juga sampai disana
kalo angkot P26 ???” .. Tanyaku lagi
penasaran..
“Iya
bang ,biasanya juga saya sampai disana, tapi saya belum makan pagi tadi bang,
jadi saya mau makan dulu disini, Abang sambung aja dengan mobil lain atau naik
becak bari sini”. Kata pak supir angkot.
Akhirnya,
dengan rasa kecewa dan kasihan, karena pak supir itu bilang kalau dia belum
makan pagi, karena setelah aku melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri
seorang gadis yang mengenakan pakaian seragam sekolah yang ada di atas angkot
yang sama dan duduknya persis didepanku
sehingga dengan mudah aku dapat melihat
jam tangannya , ketika itu jam telah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh
menit, dengan itu aku dan ramadhan langsung keluar beserta penumpang lainnya yang masih tersisa.
Dari
kota Tanjung Morawa, perjalanan menuju pondok pesantren masih lumayan jauh sehingga tidak mungkin rasanya
apa bila kami menempuhnya dengan jalan kaki. Ketika itu aku dan ramadhan pun
memutuskan untuk menunggu angkot lagi.
Setelah
bermenit-menit kami menunggu bahkan hingga berjam-jam , angkot tak kunjung
tiba-tiba juga. Sehingga kami pun memutuskan untuk naik becak saja.
Setelah
sampai di pondok, aku dan ramadhan pun langsung meluruskan badan sejenak
,karena merasa letih di perjalanan tadinya.
Singkat
cerita, setelah satu malam berada di pondok besok paginya ada sebuah mobil BMW
yang datang kepondok , Pak Muttasin selaku kepala kamus pondok, Pak Muttasin juga
bertugas untuk melayani dan menyambut para tamu-tamu yang datang kepondok.
Ketika
itu, persis pukul delapan pagi Aku dan Ramadhan
sedang berjalan-jalan ke sebuah sungai yang di sebut oleh para santri dan warga
sekitar dengan singkatan KALJOD yang
berarti “ kali jodoh” yang berada tidak jauh dari belakang pondok.dengan tujuan
untuk menikmati pemandangan alam dan
udara pagi yang segar serta suara gemercik air dan juga suara burung-burung
yang berkicau dengan indah.
Tiba-tiba
kamisin, salah seorang santri memanggil kami berdua untuk segera kembali ke
pondok, ” bang rizal sama bang madan, di
panggil oleh pak mutasin” !!!!...serunya..!!!!
Emnganya
ada apa sin ??? Tanya ku ..
Aku
gak tau bang, aku hanya di suruh manggil aja !!!!..... jawad kamisin .
Ya
deh, yuuk, kita balik ke pondok sama-sama .. ajak ku …!!!.
Sesampainya
di pondok,Aku dan Ramadhan pun langsung menemui pak Muttasin di ruang tamu
pondok. Assalamu’alaikum pak..
wa’alaikumsalam, ayuuk masuk rizal, madan ,
jawab pak Muttasin dari dalam.
Dan
ada dua bapak-bapak yang belun pernah kami kenal sebelumnya ada disana juga
sembari menunggu kedatanganku dan temanku ramadhan.
Adik
ini berdua ya ,yang akan membantu kami
di Masjid kompleks Bandala Asri ???
Iya
pak , jawab kami kompak.
Subhanallah
, Tidaksungguh tak ku sangka ternyata kami di jemput dengan mobil yang mewah BMW pada hal jarak antara pondok dengan
kompleks perumahan bandala asri itu tidak terlalu jauh.
Kalau
begitu, mulai kapan kalian akan tinggal
di sana ??? karena Ta’mir Mesjis kita disana sudah tua dan dia tidak sanggup
lagi untuk membersihkan dan merawat mesjid yang lumayan besar itu. Sedangkan
kita semua penghuni kompleks Bandala Asri itu kebanyakan pekerja sehingga
mesjid kita yang ada di sana sering sekali terbengkalai bahkan kadang kalai
jika sudah waktu Azan tiba tidak ada yang jadi muazinnya”. Tambah salah seorang
dari bapak itu.
“
Dengan mengucapkan Bismillah, iya Pak, kami siap untuk merawat dan memakmurkan
Mesjid yang bapak maksut, kita berangkat
sekarang juga boleh”, canda shabatku itu yang suka bergurau !!.
Dengan keterbatasan yang ada pada kami, kami
akan mencoba untuk itu, jikalau nanti ada kesalahan kami, baik yang sengaja
atau pun tidak sengaja kami mohon maaf pak, karena kami juga masih dalan proses
pembelajaran. Tambah ku….
Setelah
itu aku dan ramadhan pun langsung pergi ke asrama untuk berkemas-kemas pakaian dan berangkat ke kompleks bandala asri bersama
kedua bapak itu dengan mobil mewah BMW dan itu lah pertama kalinya aku menaiki
mobil BMW. Di tengah perjalanan bapak itu pun memperkenalkan diri, yang sedang
mengemudi namanya pak Jhon dan yang satu lagi namanya pak Siswanto , “ Nanti
kalu ada apa-apa disanya langsung saja bilang kebapak atau pak Jhon gak usah
segan-segan” kata pak siswanto kepada
kami.
Iya
pak.,,iya , insyaallah . jawab ku…
Sesampainya
di masjid kompleks bandala asri, pak
siswanto langsung menunjukkan kamar yang akan kami tempati selama tinggal
disana dan juga member tau kepada kami segala sesuatunya yang kiranya harus
kami ketahui. Setelah itu pak siswanto pun pamit untuk pergi dan kami pun
beristirahat sejenak sembari menunggu waktu sholat djuhur tiba.
Aktifitas yang kami lakukan di kompleks itu
sehari- hari mengepel lantai masjid, Menyapu halaman di sekelilingnya dan
menyiram bunga-bunga yang ada di sekitar
mesjid serta mengumandangkan azan apabila telah tiba waktu sholat.
Ketika
aku sedang mengepel masjid bertepatan di beranda sebelah utara mesjid dengan
tidak sengaja aku pun melihan seorang perempuan yang memakai jilbab panjang serta mengenakan
cadar melihat aku yang sedang asyeek mengepel dan secara cepat dia pun langsung
menunduk untuk bersembunyi dari pandanganku. pada saat itu aku pun tidak begitu
menghiraukan akan hal itu, akan tetapi setelah beberapa menit kemudian aku
mencoba untuk melihan ke arah jendela itu lagi ternyata seorang gadis itu
memang benar-benar sedang memperhatikanku. Akhirnya aku pun merasa tidak nyaman
dan secara cepat aku langsung segera menyesaikan pengelapan lantai di sebelah
utara mesjid tersebut
Seiring
dengan waktu yang terus berlalu, tidak terasa setelah kurang lebih satu bulan
kami berada disana waktu bulan puasa ramadhan pun telah tiba, tugas kami sebagai ta’mir mesjid pun tentunya
semakin bertambah, selain merawat mesjid dan mengumandangkan azan, khususnya
pada bulan puasa aku dan Ramadan pun diminta oleh pak Matondang sebagai ketua pengurus mesjid untuk memberitan tausiah
sebelum solat taraweh dan juga menjadi bilal. Ketika itu pula aku dan ramadhan
langsung termotifasi untuk menghafal bacaan
doa-doa sholat taraweh dan belajar ceramah yang dapat menggugah hati para
mad’u.
Setelah
beberapa hari menjalankan puasa di kompleks bandala asri ,sore itu ketika aku
dan ramadhan sedang bersih-bersih di
depan masjid ,tiba-tiba ada seorang anak bernama hasan yang berumur kurang
lebih sepuluh tahun. Dia adalah anak dari pimpinan pondok pesantren Hafizah
Ar-Rahman yang terletak masih didalam kompleks bandala asri dan hasan juga
telah hafal Al-Qur’an lima juzz . Hasan pun berkata “ bang ,punya nomor hand
fond” ??? “punya dek, emang knapa”.??..
tanya ku ,” aku minta nomor abang lah”?? Tanya hasan lagi . yasudah catat yaa…
perintahku. “ langsunga aja abang sebutkan berapa nomor hand fondnya biar aku
catat di kepalaku saja” jawab hasan. Ooooh okelah kalau begitu, aku pun
menyebutkan nomor hand fond ku kepadanya.
Esoh
harinya, hand fond ku pun berdering, pertanda ada seseorang yang meneleponku,
namun setelah ku lihat ternyata nomor baru yang masuk kedalam hand fond ku,
belum sempat aku untuk mengangkatnya hand
fond ku telah mati kembali. Dan tidak lama kembali ada sms dari nomor yang
telah mencoba untuk menelfonku tadinya.” Maaf akhy, bukan maksud saya untuk
mengganggu aktifitasnya di mesjid itu”. Begitulah isi dari sms itu. Dengan rasa
penasaran aku pun langsung membalas sms itu “ ya gak papa kok, memangnya kamu
siapa dan ada perlu apa ???..
Dia
pun membalas “ namaku Nurul, aku Cuma hanya ingin menyampaikan kepada akhi
kalau temanku namanya Mutia kiri salam sama Akhy katanya dia ngefenz sama suara antum dan aku juga mau bilang
kalau akhi rajin juga ya orangnya tiap hari ngepel Mesjid HEHE” …
“Oooo
begitu, yasudah bilang sama teman kamu wa’alaikumsalam, dan kamu tau dari mana
kalau aku selalu ngepel tiap hari, kamu anak dukun yaa HEHEHE?? candaku ” …ketika
menbalas sms darinya.
“Aku
kan selalu lihat antum dari jendela rumahku ,ooh maaf lagi ya aku mau kepondok untuk menyampaikan salam antum kepada sahatku
mutia ”. balas nurul singkat sambil mengakhiri smsnya.
Setelah
itu aku berfikir dan langsung mengingat-ingat serta mencoba untuk mencari tau
siapa dan yang manakah nurul itu sebenarnya namun aku tak kunjung menemukan
jawabannya. Dan keesokan harinya, seperti biasa aku dan Ramadan pun kerja bakti
seperti biasanya, Ramadan membersihkan di sekitar halan masjid dan aku di dalam
menyapu dan mengelap lantai masjid ketika itu
hand fondku pun berbunyi yang pertanda ada sms masuk, dan aku langsung
meraihnya, handfond yang terletak di saku celana sebelah kananku dan membaca
smsnya yang terteta namanya dari nurul. “ assalamu’alaikum, akhi kalau mau tau
siapa dan yang mana aku sebenarnya coba menoleh kejendela rumah sebelah utara
mesjid, disitu ada aku” begitulah isi sms dari Nurul. Akupun langsung menoleh
kearah jendela itu ternyata benar, disana ada seseorang yang mengenakan jilbab
panjang warna hitam lengkap beserta cadarnya. Dan setelah tidak lama kemudian
setelah aku melihanya,Nurul pun lansung pergi menghilang dari pandanganku.
Subhanallah
, sejenak aku berfikir ternyata orang yang selama ini mencuru-curi pandang untuk
melihat dan memperhatikan aku ketika bersih-bersih mesjid adalah nurul, sosok
wanita yang sholehah dan seorang hafizah yang mengenakan jilbab lengkap dengan
cadarnya.
Dan
sungguh tak kusangka dan tak ku duga, ternyata Mutia, sahabat akrab nurul yang
pernah titip salam untukku melalui nurul, menyimpan rasa yang lebih dari pada
teman biasa. Itu semua aku tau setelah nurul kembali lagi kepondok dan mutia
kepengen mendengar suara ku yang tidak seberapa ini dan saat itu pula dia
mengungkapkan semua perasaannya kepadaku bahwasanya dia suka kepadaku . ketika
itu azan sholat ashar pun telah tiba sehingga akupun tidak sempat untuk
menanggapi pernyataan mutia dan
teleponpun langsung ku akhiri.
Usai
sholat ashar nurul pun meneleponku, dan
berkata “ sebenarnya akhi, aku juga mempunya perasaan yang sama seperti
sahabatku mutia, tapi karena dia telah duluan mengungkapkannya kepada antum,
yaaa apa boleh buat mungkin dia lebih beruntung dari pada aku”. Tuturnya .
Mendengar
pernyataan dua orang wanita hafizah itu aku pun tidak tau harus berbuat apa,
karena kedua orang tuaku pernah berpesan kalau aku tidak diperbolehkan untuk
terlalu dekat dengan perempuan apalagi sampai pacaran.
Mulai
sejak itu nurul semakin sering menelponku, dan tidak jarang ketika nurul
telfonan denganku mutia sahabatnya ada juga bersamanya sehingga mutia banyak
tau tentang perbincanganku dengan Nurul melalui telpon.
Sore itu, bertepatan pada Bulan Puasa Ramadan yang ke tujuh belas , kembali lagi nomor baru
masuk ke hand fondku, ternyata dia adalah Mutia. “ akhi, sepertinya aku tidak
bisa lagi menahan rasa cemburuku apa bila
aku mendengar akhi telfonan
dengan nurul, dari itu aku minta akhi
memilih salah satu diantara kami berdua,kalau akhi pilih aku maka jangan pernah
hubungi nurul lagi. Dan jika akhi memilih nurul maka jangan pernah hubungi aku
juga dan anggap saja kita tdak pernah
kenal” tegas mutia. Dan telfon pun langsung dimatikan tanpa menunggu jawaban
dariku. Dan tidak lama kemudian nurul
juga telfon dan mengatakan hal yang sama, sepertinya mereka telah bersepakat
berdua untuk meminta kejelasan dariku.
Diriku yang tidak
mempunyai sedikit pun pengalaman tentang
“cinta” pada saat itu bingung harus berbuat apa, agar supaya tidak ada yang merasa sakit hati dan hubungan
persahabatan ini tetap terjalin dengan baik.
Maka keesokan harinya
akupun menyatakan kepada keduanya bahwa aku tidak memilih siapapun di antara
mereka berdua, karena jika aku memilih mutia maka tentunya nurul nurul yang
terlebih dahulu ku kenal dari pada mutia tentu merasa sakit hati, dan tidak
menutup kemungkinan begitu juga sebaliknya.
Ternyata kedua hafizah pesantren Ar-Rahman itu akhirnya
dapat menerima keputuskanku dengan lapang dada, sehingga hubungan persahabatan
kami masih terjaga dengan baik.()
Tamat